Back

Karya ini saya tulis sebagai bentuk tanggung jawab etis: sebagai pengingat, dan membuka percakapan tentang bagaimana bisnis dan negara berkolaborasi membentuk narasi tubuh ideal, serta untuk mengingatkan bahwa seni—termasuk sastra—masih memiliki daya untuk menolak, merawat ingatan, dan memulihkan martabat perempuan.” ~ Foggy FF


Novel Borasih bermula dari sebuah desa bernama Ciambarang, terletak di kaki bukit yang membelah wilayah antara dua trah bangsawan: Wirasandi dari barat dan Galinggih dari timur. Permusuhan dua keluarga ini bukan sekadar soal batas tanah atau rivalitas bisnis. Ia berakar pada sesuatu yang jauh lebih kuno, sebuah rahasia perempuan peramu yang dikubur oleh sejarah patriarkis.

Sekar Galinggih dan Sinom Wirasandi—yang bersahabat, telah menyusun formula lulur Borasih dari naskah kuno warisan nenek moyang mereka. Borasih bukan sekadar ramuan kecantikan biasa. Ia adalah simbol perlawanan di zaman revolusi. Hasil kolaborasi dua perempuan dari perseteruan dua trah, menolak batas-batas lelaki di sekitar mereka, yang menyimpan pengetahuan sebagai bentuk kedaulatan.

Ide utama yang membuat saya resah ketika merancang novel ini, adalah soal kolaborasi perempuan yang subversif—dua perempuan dari dua kubu bermusuhan memilih untuk menciptakan sesuatu bersama—yang lantas diubah oleh narasi patriarki menjadi konspirasi dan pengkhianatan. Formula Borasih yang tadinya lahir dari persahabatan dan pengetahuan bersama itu kemudian direbut, diperdebatkan kepemilikannya, dan pada akhirnya dijadikan komoditas oleh dua keluarga sebagai intrik bisnis.

Puluhan tahun kemudian, konflik itu diwarisi oleh Laras Wirasandi dan Ambalika Galinggih—dua perempuan muda dari generasi ketiga yang masing-masing merepresentasikan dua cara pandang berbeda. Laras adalah CEO sekaligus saintis. Ia seorang yang rasional, senantiasa berbasis data, percaya pada kesetaraan melalui jalur sains dan bisnis modern. Ambalika adalah botanis sekaligus spiritualis, percaya pada ekofeminisme, pengetahuan lokal, dan kedaulatan perempuan akar rumput.

Saya tidak ingin novel ini sekadar menjadi cerita tentang pertentangan tradisi versus modernitas, atau spiritualitas versus sains. Pembingkaian dikotomis seperti itu terlalu sering dipakai untuk melabeli perempuan—memaksa mereka memilih identitas yang sebenarnya tidak perlu jadi problem. Saya memberi highlight, justru pada dualisme Wirasandi–Galinggih, Timur–Barat, Tradisi–Modernitas, terdapat sebuah konstruksi yang sengaja dipelihara oleh struktur patriarkis untuk mencegah para perempuan bersatu.

Borasih mengajak pembaca: mempertanyakan bagaimana pengetahuan tentang tubuh perempuan—yang sejak ribuan tahun dijaga oleh perempuan sendiri, dari generasi ke generasi—selalu menjadi sasaran kekuasaan. Oleh kolonialisme yang menyebutnya sebagai takhayul manusia primordial. Oleh kapitalisme yang mengubahnya menjadi produk eksploitatif. Oleh patriarki yang membentuk relasi kuasa. Borasih adalah novel tentang upaya memulihkan jati diri perempuan yang melawan, lewat pertarungan hukum, upacara adat, dan kesadaran spiritual yang bertemu dalam satu klimaks.

Weight 1 kg
Dimensions 25 × 14 × 20 cm
Penerbit

Effington Books

Produser

Valent Mustamin

Penyunting

Ariel Seraphino

Illustrator

Padminada Prammuthi

Halaman

vi + 380

Ukuran

10.8 x 17.45 cm (Pocket Book)