Back

Saya menulis Poespa Pohatji, berawal dari sebuah pertanyaan sederhana yang menyimpan kompleksitas: mengapa perempuan ingin tampil cantik? Selama saya bekerja sebagai kosmetolog, saya menyaksikan betapa erat hubungan antara ritual kecantikan dengan identitas, rasa aman, bahkan perlawanan. Ada perempuan yang mengenakan lipstik merah bukan untuk tampil cantik, melainkan untuk merasa bahwa ia masih punya kendali atas dirinya. Ada yang merawat kulitnya karena ia merasa memiliki tubuhnya secara utuh.

Kosmetika—dalam narasi dominan—sering dibingkai sebagai alat patriarki, sebuah cara perempuan menyesuaikan diri dengan standar kecantikan yang diciptakan oleh dan untuk kepentingan laki-laki. Pembacaan ini tentunya tidak salah, meski tak sepenuhnya utuh. Sebagai seseorang yang bertahun-tahun mendengarkan keluhan klien perempuan soal kulit, saya tahu ada dimensi lain: kosmetika bisa menjadi bahasa, bisa menjadi ruang, bisa menjadi cara perempuan menegosiasikan dirinya agar memiliki daya tawar. Poespa Pohatji ingin mengeksplorasi sisi ini.

Konflik bermula ketika tokoh “aku”, bernama Rakunti mulai meragukan prinsip hidup dan etika bisnis yang selama ini ia yakini, bahwa kulit cerah adalah standar kesuksesan dan kecantikan. Ketika kesadaran ini tumbuh, ia justru terjebak dalam industri yang dibangun dari kepercayaan itu. Ia menghadapi dilema: mempertahankan bisnis yang menghasilkan kekayaan, atau merombak sistem yang berisiko meruntuhkan segalanya.

Weight 1 kg
Dimensions 25 × 14 × 20 cm
Penulis

Foggy FF

Pemeriksa Ejaan

Maya Nastasya

Tata Letak Isi

Maya Nastasya

Desain Kover

Mufidz At-Thoriq

Penerbit

Langgam Pustaka

ISBN

978-634-251-161-9